Thursday, June 19, 2025

Pa.. aku Rindu

 

Rabu/ 8 Mei 2024

Tulisan tentang “Papa” yang aku buat setahun yang lalu..

Assalamualaiku Diriku. Sudah sampai di titik ini. Ya Allah aku bertemu Almarhum Papa lagi L

Entah mengapa belum cukup cerita yang ingin aku sampaikan ke Papa (ingin komunikasi lagi dengan papa). Terakhir percakapan aku dan papa adalah tentang pertanyaan “Papa pernah ke Jogja?” Papa menjawab “Pernah”. Dissat itu banyak hal yang ingin aku tanyakan ke beliau. Namun, rasa dingin di antara kami , hal yang tidak bisa aku deskripsikan. Bagaimana cara pandang papa melihatku. Apakah aku masih seperti anak kecil di mata papa?

Aku rindu masa-masa papa mendidikku selama aku berada di sekolah. Banyak sekali dukungan dan support yang papa berikan sampai aku di titik ini. Pa.. aku hanya ingin bilang aku rindu, dan aku ingin engkau bangga dengan pencapaianku saat ini.

Alhamdulillah sudah dikaruniakan seorang anak yang sehat dan cerdas dan juga diberikan gaji tetap oleh Allah SWT. Hal yang harus aku jaga yaitu menjaga nama baik keluarga Pa..

Aku ingin berusaha agar keluarga ini naik martabatnya dan tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain.

Sekarang hanya tinggal Mama, Giarra, Gita saja di Kartu Keluarga kita.

Pa.. Pa..

Semoga aku bisa menjadi anak laki-laki papa yang bisa diandalkan dalam keluarga ku, baik di keluarga kecilku yang sedang aku bangun maupun di keluarga kita Pa. Aku hanya berpikir sampai di titik ini apakah aku bisa membahagiakan dua keluarga ini? Aku dengan keterbatasanku..aku akan berusaha dan berjuang dengan keras dan dengan ikhlas pa..

Seperti keteladanan yang telah engkau berikan kepada kami sebagai anakmu Pa. Papa setiap hari bekerja tanpa lelah demi mencari nafkah dan menghidupi kami semenjak kami kecil. Ketika aku melihat papa tertidur pada siang itu di rumah.. kelihatan papa capeknya. Namun papa tidak pernah terlihat mengeluh dengan semua itu. Ketika papa, bahkan ketika papa dirawat di Rumah Sakit karena sakit Jantung dulu.. Orang-orang kantor datang menjenguk papa dan masih juga membahas tentang pekerjaan dan dokumen yang harus engkau tanda tangani. Papa tidak mengeluh dengan itu. Namun aku yang melihat dengan mata kepalaku sendiri, berpikir “tidaklah ETIS membahas kerjaan disaat melihat orang yang sedang sakit”. Ingin rasanya aku usir mereka semua. Namun apa yang terjadi, papa tetpa professional dan bersedia melayani mereka. Terima kasih papa, pembelajaran berharga untukku di saat itu tentang kesabaran dan menahan diri di setiap kondisi..




Selesai.



Afirmasi Diri untuk INFP

 Afirmasi Diri (bisa dibaca pagi atau sebelum tidur) Aku boleh menjadi lembut di dunia yang keras. Itu bukan kelemahan, tapi kekuatanku. Per...