Tuesday, January 7, 2014

Kutipan Buku Alam Takambang Jadi Guru V

Mengaji Di Surau, Belajar Di sekolah
By: Rahmawati Raz

Mustahil memisahkan Islam dan Minangkabau. Islam tidak hanya sebagai agama, tetapi juga telah menjadi identitas bagi orang Minang. Tidaklah mengherankan suasana religius akan terasa di Bumi Minangkabau. Jika kita terbang rendah atau hendak mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, kita akan melihat masjid-masjid dan surau-surau seakan aling berdekatan. Jika kita cermati, bangunan surau yang mengambil bentuk arsitektur rumah adat Minang, dengan kubahnya yang menjulang tinggi merupakan simbol dari tauhid itu sendiri.
sejak awal masjid, khususnya surau telah menjadi pusat aktivitas keagamaan. Umumnya adalah tempat anak laki-laki mengaji, belajar bela diri, belajar kearifan lokal, dan belajar tentang budaya Minang. Sedangkan anak perempuan, pergi ke surau sesekali bersama orang tuanya atau shalat tarwih pada bulan Ramadhan.
Menurut aturan adat, surau juga merupakn rumah kedua bagi anak laki-laki setelah rumah tempat ia dilahirkan. bahkan dapat dikatakan, surau sesungguhnya “rumah utamanya” sampai akhirnya ia menikah. Tempat berkumpul kaum laki-laki remaja dan dewasa untuk semua jenis aktivitas kegamaan dan sosial. Anak laki-laki Minang tidak mempunyai kamar tidur di rumah ibunya. Andai ia pulang ke rumah ibunya, itu hanya untuk makan. Adalah memalukan bila anak laki-laki remaja tidur di rumah ibunya, lebih-lebih lagi jika di rumahnya terdapat perempuan dewasa yang belum menikah atau saudara perempuannya yang telah menikah.
Disamping itu, surau didefenisikan juga sebagai pusat informasi. Di surau setiap orang berbagi Informasi, tentang apa saja. Salah satu yang ditunggu-tunggu anak remaja adalah cerita tentang dunia rantau. Cerita ini biasanya diperoleh dari para senior yang telah pernah merantau. Jika disederhanakan, surau adalah tempat laki-laki Minang untuk bersosialisasi dan sebagai tempat untuk merencanakan masa depan yang lebih baik.
Kehidupan masa kecilku tidak dapat dipisahkan dari surau. Keterikatan batinku dengan surau begitu erat. Jika pagi aku belajar di sekolah, maka sore hari aku mengaji di sikolah patang di surau. Menjelang maghrib kami anak perempuan harus kembali ke rumah. Tidak boleh lagi berkeliaran di luar. Sedangkan anak-anak laki-laki kembali ke surau untuk melanjutkan pengajiannya.
Masih segar dalam ingatanku, kala itu, aku memakai kain sarung dan selendang. Itulah pakaian anak perempuan mengaji. Orang sekarang menyebutnya dengan pakaian muslimah. Setiap kali menjelang malam, aku bergegas untuk mempersiapkan suluah, sejenis obor dari daun kelapa kering yang akan menerangi jalanku ke Surau. Saat itu, listrik belum ada.   

No comments:

Post a Comment

Afirmasi Diri untuk INFP

 Afirmasi Diri (bisa dibaca pagi atau sebelum tidur) Aku boleh menjadi lembut di dunia yang keras. Itu bukan kelemahan, tapi kekuatanku. Per...