Mengaji Di Surau, Belajar Di sekolah
By: Rahmawati Raz
Mustahil memisahkan Islam dan Minangkabau. Islam tidak
hanya sebagai agama, tetapi juga telah menjadi identitas bagi orang Minang.
Tidaklah mengherankan suasana religius akan terasa di Bumi Minangkabau. Jika
kita terbang rendah atau hendak mendarat di Bandara Internasional Minangkabau,
kita akan melihat masjid-masjid dan surau-surau seakan aling berdekatan. Jika
kita cermati, bangunan surau yang mengambil bentuk arsitektur rumah adat
Minang, dengan kubahnya yang menjulang tinggi merupakan simbol dari tauhid itu
sendiri.
sejak awal masjid, khususnya surau telah menjadi pusat
aktivitas keagamaan. Umumnya adalah tempat anak laki-laki mengaji, belajar bela
diri, belajar kearifan lokal, dan belajar tentang budaya Minang. Sedangkan anak
perempuan, pergi ke surau sesekali bersama orang tuanya atau shalat tarwih pada
bulan Ramadhan.
Menurut aturan adat, surau juga merupakn rumah kedua bagi anak
laki-laki setelah rumah tempat ia dilahirkan. bahkan dapat dikatakan, surau
sesungguhnya “rumah utamanya” sampai akhirnya ia menikah. Tempat berkumpul kaum
laki-laki remaja dan dewasa untuk semua jenis aktivitas kegamaan dan sosial.
Anak laki-laki Minang tidak mempunyai kamar tidur di rumah ibunya. Andai ia
pulang ke rumah ibunya, itu hanya untuk makan. Adalah memalukan bila anak
laki-laki remaja tidur di rumah ibunya, lebih-lebih lagi jika di rumahnya
terdapat perempuan dewasa yang belum menikah atau saudara perempuannya yang
telah menikah.
Disamping itu, surau didefenisikan juga sebagai pusat informasi.
Di surau setiap orang berbagi Informasi, tentang apa saja. Salah satu yang
ditunggu-tunggu anak remaja adalah cerita tentang dunia rantau. Cerita ini
biasanya diperoleh dari para senior yang telah pernah merantau. Jika
disederhanakan, surau adalah tempat laki-laki Minang untuk bersosialisasi dan
sebagai tempat untuk merencanakan masa depan yang lebih baik.
Kehidupan masa kecilku tidak dapat dipisahkan dari surau.
Keterikatan batinku dengan surau begitu erat. Jika pagi aku belajar di sekolah,
maka sore hari aku mengaji di sikolah
patang di surau. Menjelang maghrib kami anak perempuan harus kembali ke
rumah. Tidak boleh lagi berkeliaran di luar. Sedangkan anak-anak laki-laki
kembali ke surau untuk melanjutkan pengajiannya.
Masih segar dalam ingatanku, kala itu, aku memakai kain sarung
dan selendang. Itulah pakaian anak perempuan mengaji. Orang sekarang menyebutnya
dengan pakaian muslimah. Setiap kali menjelang malam, aku bergegas untuk
mempersiapkan suluah, sejenis obor
dari daun kelapa kering yang akan menerangi jalanku ke Surau. Saat itu, listrik
belum ada.
No comments:
Post a Comment