Pepatah tentang hutang budi (Etty Raz)
"Kasudahan dunia ke akhirat, kasudahan adat ke balairung Pisang emas bawa berlayar, masak sebuah di dalam peti. Hutang emas dapat dibayar, hutang budi dibawa mati."
Dalam bentuk yang lain pepatah Minang menjelaskan, "Yang kurik ialah kundi, yang merah ialah saga, yang baik ialah budi, yang indah ialah basa. Pucuk pauh selara pauh, penjuluk bunga ligundi, supaya jauh silang sengketa, perhalus basa dan basi."
Sesungguhnya syarat yang dikehendaki dalam adat yang bermutu tnggi dan berakhlak baik ialah budi pekerti yang baik dan tinggi. Budi ini mendapat tempat utama. Pecahan budi itu di dalam adat akan menjelma dalam raso, pariso, malu, dan sopan dalam perilaku dan pergaulan.
Dalam maknanya yang lebih luas, budi adalah kesanggupan merasakan dan berempati kepada orang. Rasa itu di bawa ke dalam diri. Senang dan sakit orang lain adalah senang dan sakit kita juga. maka budi itu berbuat baik terhadap orang lain, seperti kita berbuat baik terhadap diri kita sendiri. Sejatinya, hubungan yang terjalin antara kita dengan orang lain bukanlah berdasarkan untung dan rugi. Beban sekoyang dapat dipikul, budi sedikit terasa berat.
Jika aku renungkan, sungguh aku ini bukan siapa-siapa.*
No comments:
Post a Comment