Pertama adalah apa yang disebut dengan Kato mendaki. Maksudnya adalah dialog atau perbincangan antara
seseorang dengan orang yang berkedudukan tinggi secara moral-spiritual. Seorang
anak yang ingin berbincang dengan ayah ibunya, harus menggunakan kato Mandaki. Lewat kata-kata yang
disampaikan kepada kedua orang tuanya akan tampak apakah ia menghormati kedua
orang tuanya atau tidak. Demikian juga komunikasi antara kemenakan dengan
mamaknya, juga menggunakan Kato Mendaki.
Kaitannya dalam hal ini, aku kira Al Qur’an memiliki ajaran yang
cukup tegas. Kita dilarang berkata “ah” kepada orang tua kita dan sebaliknya
kita disuruh untuk berkata dengan perkataan yang mulia (qaulan karima). Ajaran
Al Qur’an yang penting ini diterjemahkan di dalam adat Minang dengan Kato Mendaki.
Selanjutnya Kato Malereng
yang berupa kata yang penuh kiasan dan perbandingan. Inilah salah satu bentuk
kehalusan budaya minang. Tidak semua keinginan atau hajat harus disampaikan
dengan kata yang tegas dan langsung. Orang sekarang menyebutnya dengan “To The
Point”. Misalnya, ketika kita ingin meminang seorang gadis. Jika bahasanya
langsung, maka kesannya bisa negatif. Orang tua si gadis merasa direndahkan.
Memang ada hal-hal tertentu yang malah disampaikan dengan kalimat langsung
malah tidak baik. Sebaliknya, jika menggunakan kiasan, kesannya tidak saja
menunjukkan pemakainya orang berbudaya,
tetapi juga kematangan jiwa.
Tidak kalah menariknya, Kato
Malereng kerap membuat penggunanya memiliki nalar dan analisa yang tajam.
Kato malereng tidak bisa dipahami apa adanya. Perlu perenungan dan juga
pemaknaan. Tidaklah mengherankan dalam budaya minang, menggunakan kata kiasan
merupakan hal yang lazim.
Kato Mandata adalah komunikasi yang disampaikan kepada orang yang statusnya
dan usianya relatif sama. kata dijawab, gayung bersambut sama besar.
Perbincangan dengan teman se level biasanya dihiasi dengan canda tawa antar
sesama teman. Pola komunikasi ini dipakai dalam rangka mengeratkan
persaudaraan. Kendati demikian, mereka juga punya kesadaran. Berbicara sesama
teman selevel, tetap harus menjunjung norma dan etika. Tidak boleh bebas,
sekena hati dan tidak menghiraukan rambu-rambu adat dan agama.
Kato Manurun adalah pola komunikasi dari yang besar kepada yang kecil.
Perbincangan model ini umumnya digunakan untuk saling menasehati antara yang
tua kepada yang lebih muda, yang besar kepada yang kecil. Kato manurun membuat orang yang muda merasa diayomi, dibimbing dan
tentu saja disayangi. Implikasinya, pesan moral yang disampaikan akan lebih
mudah diterima.
Dengan mengetahui Kato Nan
ampek, tentulah harkat dan martabat kita akan terjaga. Komunikasi akan
berjalan efektif karena kita bisa menempatkan lawan bicara pada tempat yang
sewajarnya. Pada gilirannya, komunikasi akan tepat sasaran. Inilah yang
sesungguhnya disebut-sebut sebagai komunikasi yang efektif. Ukuran efektif bukan
sebatas kata-kata yang diucapkan, melainkan kepada siapa kata-kata tersebut
ditujukan.
Aku teringat dengan apa yang pernah disampaikan Nabi Muhammad
SAW. Kallimu al-nas ‘ala qadri ‘uqulihim.
(berbicaralah kepada mereka dengan memperhatikan kapasitas mereka).***
No comments:
Post a Comment