Wednesday, January 8, 2014

Empat (Continue)



Pertama adalah apa yang disebut dengan Kato mendaki. Maksudnya adalah dialog atau perbincangan antara seseorang dengan orang yang berkedudukan tinggi secara moral-spiritual. Seorang anak yang ingin berbincang dengan ayah ibunya, harus menggunakan kato Mandaki. Lewat kata-kata yang disampaikan kepada kedua orang tuanya akan tampak apakah ia menghormati kedua orang tuanya atau tidak. Demikian juga komunikasi antara kemenakan dengan mamaknya, juga menggunakan Kato Mendaki.
Kaitannya dalam hal ini, aku kira Al Qur’an memiliki ajaran yang cukup tegas. Kita dilarang berkata “ah” kepada orang tua kita dan sebaliknya kita disuruh untuk berkata dengan perkataan yang mulia (qaulan karima). Ajaran Al Qur’an yang penting ini diterjemahkan di dalam adat Minang dengan Kato Mendaki.
Selanjutnya Kato Malereng yang berupa kata yang penuh kiasan dan perbandingan. Inilah salah satu bentuk kehalusan budaya minang. Tidak semua keinginan atau hajat harus disampaikan dengan kata yang tegas dan langsung. Orang sekarang menyebutnya dengan   To The Point”. Misalnya, ketika kita ingin meminang seorang gadis. Jika bahasanya langsung, maka kesannya bisa negatif. Orang tua si gadis merasa direndahkan. Memang ada hal-hal tertentu yang malah disampaikan dengan kalimat langsung malah tidak baik. Sebaliknya, jika menggunakan kiasan, kesannya tidak saja menunjukkan  pemakainya orang berbudaya, tetapi juga kematangan jiwa.
Tidak kalah menariknya, Kato Malereng kerap membuat penggunanya memiliki nalar dan analisa yang tajam. Kato malereng tidak bisa dipahami apa adanya. Perlu perenungan dan juga pemaknaan. Tidaklah mengherankan dalam budaya minang, menggunakan kata kiasan merupakan hal yang lazim.
Kato Mandata adalah komunikasi yang disampaikan kepada orang yang statusnya dan usianya relatif sama. kata dijawab, gayung bersambut sama besar. Perbincangan dengan teman se level biasanya dihiasi dengan canda tawa antar sesama teman. Pola komunikasi ini dipakai dalam rangka mengeratkan persaudaraan. Kendati demikian, mereka juga punya kesadaran. Berbicara sesama teman selevel, tetap harus menjunjung norma dan etika. Tidak boleh bebas, sekena hati dan tidak menghiraukan rambu-rambu adat dan agama.
Kato Manurun adalah pola komunikasi dari yang besar kepada yang kecil. Perbincangan model ini umumnya digunakan untuk saling menasehati antara yang tua kepada yang lebih muda, yang besar kepada yang kecil. Kato manurun membuat orang yang muda merasa diayomi, dibimbing dan tentu saja disayangi. Implikasinya, pesan moral yang disampaikan akan lebih mudah diterima.
Dengan mengetahui Kato Nan ampek, tentulah harkat dan martabat kita akan terjaga. Komunikasi akan berjalan efektif karena kita bisa menempatkan lawan bicara pada tempat yang sewajarnya. Pada gilirannya, komunikasi akan tepat sasaran. Inilah yang sesungguhnya disebut-sebut sebagai komunikasi yang efektif. Ukuran efektif bukan sebatas kata-kata yang diucapkan, melainkan kepada siapa kata-kata tersebut ditujukan.
Aku teringat dengan apa yang pernah disampaikan Nabi Muhammad SAW. Kallimu al-nas ‘ala qadri ‘uqulihim. (berbicaralah kepada mereka dengan memperhatikan kapasitas mereka).***    

No comments:

Post a Comment

Afirmasi Diri untuk INFP

 Afirmasi Diri (bisa dibaca pagi atau sebelum tidur) Aku boleh menjadi lembut di dunia yang keras. Itu bukan kelemahan, tapi kekuatanku. Per...