"Minangkabau Pusaka Bunda"
Beragam kisah tentang asal muasal nama atau negeri Minangkabau. Mulai dari cerita rakyat sampai ahli sejarah, ahli sosiologi, ahli antripologi, sastrawan bahkan alim ulama baik dari dalam negeri maupun luar negeri, seperti, Prof. DR. Purbacaraka, Prof. DR. Van der Tuuk, Prof. Sutan Muhammad Zain, HAMKA, Yulfian azrial, S.E. dan lain-lainnya. Prof. DR. Usman Peli ahli Antropologi yang berasal dari Bayur, tak luput menggali tentang keberadaan Minangkabau. masing-masing dengan paparan dan defenisinya yang tentunya telah mereka teliti dan pelajari.
Aku ingin mengisahkan bahwa pada satu masa, di negeri Pagaruyung yang aman sentosa, hiduplah seorang raja yang memimpin kerajaannya dengan adil, arif dan bijaksana. Suatu hari datanglah berita yang mengusik para penduduknya. Bala tentara majapahit datang hendak menaklukan mereka. Melihat kekuatan pasukan tersebut, Datuk Berdua, yaitu Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang berunding bersama Cati Bilang Pandai. Mereka mencari akal bagaimana menangkis musuh dan akhirnya memperoleh kemenangan. Pasukan kerajaan dan pasukan yang datang sepakat untuk bertanding mengadu kerbau di gelanggang. Kerbau yang menang bermakna kemenangan bagi pemiliknya.
Pihak musuh mendaftarkan kerbau yang sangat besar. Tidak ada kerbau yang sepadan untuk menandinginya. Lalu datuk Berdua kembali beruding. Cati Bilang Pandai mengajukan saran agar kerbau besar itu di lawan dengan anak kerbau yang sedang menyusui. Sebelum dilepas ke gelanggang, dibiarkan tidak menyusui pada induknya dan dibuat kelaparan. Lalu pada hidungnya diikatkan sepotong batang besi runcing.
Pada hari yang telah ditetapkan, pertandingan dimulai dan masing-masing melepaskan kerbaunya. Ketika melihat seekor kerbau besar, anak kerbau tersebut menyangka itulah induknya. Karena sudah beberapa hari kerbau kecil tidak menyusui, ia berlari ke arah perut kerbau besar dan langsung menyeruduknya. Ternyata besi tajam yang diikatkan ke kerbau kecil menembus perut kerbau besar. Kerbau besar lari kesakitan dan tiba di satu kampung dan isi perutnya terburai (tersumpuruik). Kemudian kampung ini dinamakan kampung Simpuruik. Kerbau terus berlari dan akhirnya mati. Kulit kerbau itu diambil penduduk. Kampung itupun dinamakan Sijangek(Kulit). Sejak kemenangan itu tempat gelanggang pertandingan dinamakan Minangkabau.
No comments:
Post a Comment