Tahu
Nan di Empat
By:
Rahmawati Raz
Salah
satu pelajaran penting tentang adat yang aku pelajari adalah "tahu nan di
ampek". Kendatipun kalimatnya tidak dalam bentuk perintah, namun sudah
dimaklumi, setiap orang minang wajib tahu yang empat. Empat bukanlah sebatas
bilangan setelah tiga. Namun empat adalah “sesuatu” nilai yang tidak bisa
dipilih satu diantaranya. Empat adalah sebuah kumulatif.
Akupun
tak tahu mengapa harus empat. Mengapa tidak lima atau yang lainnya. Yang jelas
angka empat bukanlah angka keramat. Kebetulan saja “sesuatu” yang penting itu
ada empat. Orang Minang memang biasa menggunakan angka untuk menunjuk sesuatu.
Sebut saja, nagari Limo Kaum, Luhak nan Tigo, Lareh nan Duo, amanat ninik yang
bertiga, raja tigo selo, langgam nan tujuh, undang-undang nan duo puluah dan
sebagainya. Namun tampaknya, angka empat (ampek) banyak disebut. Contohnya,
Nagari nan Ampek, hukum nan Ampek, Cupak nan Ampek, dan Kato nan Ampek.
Berikut
tentang paparan untuk kato nan ampek. Ajararan tentang model komunikasi orang
Minang. ajaran ini sangat penting karena dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Empat hal ini biasa diterapkan dalam berkomunikasi lebih-lebih dalam
perundingan. Siapa yang mampu menempatkan empat hal ini, maka dia akan disebut
sebagai orang yang berbudi dan tahu nan di ampek. keempat hal tersebut adalah,
kato mandaki(kata mendaki), kato malereng(kata melereng), Kato Mandata (Kata
mendatar) dan Kato Manurun (Kata menurun).
Lewat
ajaran ini, orang minang diajarkan untuk mampu menempatkan kata untuk
dikomunikasikan kepada orang lain. Memahami dan menyadari lawan bicara menjadi
sebuah keharusan. Jika tidak mampu menempatkan kata dan sikap, maka yang
terjadi adalah kerugian bahkan kemudaratan yang akan menimpa dirinya sendiri.
Bukankah dalam pepatah ada disebut, mulutmu harimaumu.
No comments:
Post a Comment