Untuk anak-anak seusiaku, penjelasan angku guru seperti itu dipandang cukup. seiring dengan pertambahan usiaku, makna ungkapan tersebut tidaklah sesederhana itu. Di dalamnya terkandung filosofi yang sangat dalam. memiliki sejarahnya sendiri, tidak lahir dari ruang yang hapa. Ada konteks tersendiri yang sejatinya harus dipahami oleh siapa saja yang ingin mempelajarinya.
Islam bukanlah agama yang pertama hadir di Minangkabau. sebelumnya telah ada agama ardhi (bumi) yaitu Hindu dan Budha. Orang Minang telah hidup dengan tradisinya yang memiliki nilai-nilai yang dipegangi dan disepakati bersama, tentu tidak sama dengan nilai-nilai yang diajarkan Islam. Kehadiran Islam tidak saja memperkaya nuansa adat Minangkabau tetapi juga memberi kontribusi terhadap makna nilai yang tersebut di atas.
Pada mulanya adat Minangkabau menjadikan alam nyata sebagai tujuan hidup. Belum terbayang di benak mereka apa yang disebut alam akhirat. Islam kemudian berperan mengubah pola pandang itu menjadi pengakuan terhadap ala akhirat sebagai tujuan akhir menemui sang Pencipta. Kehadiran islam menegaskan bahwa kehidupan bukan hanya persoalan nama baik. Tidak pula sebatas agar kita bisa dikenang selamanya. Yang penting adalah, bagaimana kehidupan diarahkan untuk mempersiapkan bekal melalui amal saleh. Amal saleh inilah akhirna nanti yang akan menemani kita menuju perjalanan akhirat dan bertemu dengan qadhi rabb al-jalil.
Sebelum kedatangan Islam, di Minangkabau hanya dikenal institusi Raja Adat yang berfungsi untuk mengurusi seluk beluk adat. Kehadiran islam kaya dengan syariat menuntut adanya "raja baru" yang mengurusi persoalan agama. lahirlah institusi raja Ibadat. Bersamaan dengan itu, ada lagi Raja alam yang mengurusi pemerintahan. Maka terbentuklah lembaga baru yang bernama, "Raja nan tigo selo." Tiga raja duduk bersila berdampingan, yakni Raja Adat di Lintau Buo, Raja Ibadat di Sumpur Kudus dan Raja alam di Pusat pemerintahan Pagaruyung Tanah Datar.
Sebelum kedatangan Islam, di Minangkabau hanya dikenal institusi Raja Adat yang berfungsi untuk mengurusi seluk beluk adat. Kehadiran islam kaya dengan syariat menuntut adanya "raja baru" yang mengurusi persoalan agama. lahirlah institusi raja Ibadat. Bersamaan dengan itu, ada lagi Raja alam yang mengurusi pemerintahan. Maka terbentuklah lembaga baru yang bernama, "Raja nan tigo selo." Tiga raja duduk bersila berdampingan, yakni Raja Adat di Lintau Buo, Raja Ibadat di Sumpur Kudus dan Raja alam di Pusat pemerintahan Pagaruyung Tanah Datar.
No comments:
Post a Comment