Rabu/ 8 Mei 2024
Tulisan tentang “Papa” yang aku buat setahun yang lalu..
Assalamualaiku Diriku. Sudah sampai di titik ini. Ya Allah
aku bertemu Almarhum Papa lagi L
Entah mengapa belum cukup cerita yang ingin aku sampaikan ke
Papa (ingin komunikasi lagi dengan papa). Terakhir percakapan aku dan papa
adalah tentang pertanyaan “Papa pernah ke Jogja?” Papa menjawab “Pernah”. Dissat
itu banyak hal yang ingin aku tanyakan ke beliau. Namun, rasa dingin di antara
kami , hal yang tidak bisa aku deskripsikan. Bagaimana cara pandang papa
melihatku. Apakah aku masih seperti anak kecil di mata papa?
Aku rindu masa-masa papa mendidikku selama aku berada di
sekolah. Banyak sekali dukungan dan support yang papa berikan sampai aku di
titik ini. Pa.. aku hanya ingin bilang aku rindu, dan aku ingin engkau bangga
dengan pencapaianku saat ini.
Alhamdulillah sudah dikaruniakan seorang anak yang sehat dan
cerdas dan juga diberikan gaji tetap oleh Allah SWT. Hal yang harus aku jaga
yaitu menjaga nama baik keluarga Pa..
Aku ingin berusaha agar keluarga ini naik martabatnya dan
tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain.
Sekarang hanya tinggal Mama, Giarra, Gita saja di Kartu
Keluarga kita.
Pa.. Pa..
Semoga aku bisa menjadi anak laki-laki papa yang bisa
diandalkan dalam keluarga ku, baik di keluarga kecilku yang sedang aku bangun
maupun di keluarga kita Pa. Aku hanya berpikir sampai di titik ini apakah aku
bisa membahagiakan dua keluarga ini? Aku dengan keterbatasanku..aku akan berusaha
dan berjuang dengan keras dan dengan ikhlas pa..
Seperti keteladanan yang telah engkau berikan kepada kami
sebagai anakmu Pa. Papa setiap hari bekerja tanpa lelah demi mencari nafkah dan
menghidupi kami semenjak kami kecil. Ketika aku melihat papa tertidur pada
siang itu di rumah.. kelihatan papa capeknya. Namun papa tidak pernah terlihat mengeluh
dengan semua itu. Ketika papa, bahkan ketika papa dirawat di Rumah Sakit karena
sakit Jantung dulu.. Orang-orang kantor datang menjenguk papa dan masih juga
membahas tentang pekerjaan dan dokumen yang harus engkau tanda tangani. Papa tidak
mengeluh dengan itu. Namun aku yang melihat dengan mata kepalaku sendiri,
berpikir “tidaklah ETIS membahas kerjaan disaat melihat orang yang sedang sakit”.
Ingin rasanya aku usir mereka semua. Namun apa yang terjadi, papa tetpa professional
dan bersedia melayani mereka. Terima kasih papa, pembelajaran berharga untukku
di saat itu tentang kesabaran dan menahan diri di setiap kondisi..
Selesai.
No comments:
Post a Comment