Wednesday, January 8, 2014

S



Sambungan
Surau bagiku memiliki makna tersendiri. Demikian pula bagi anak-anak seusiaku kala itu. Tentu berbeda dengan anak-anak sekarang di mana masjid atau surau bukan lagi tempat yang memilki daya tarik tersendiri. Aku juga tidak tahu, apakah fungsi surau masa lalu masih bertahan sampai sekarang ini? Apakah surau masih dijadikan tempat belajar membaca Al Qur’an? apakah surau masih menjadi tempat berkumpulnya anak laki-laki minang sebagai pusat aktivitas? Apakah surau masih memiliki magnet yang begitu kuat sebagai kawah chandra di muka agar mereka menjadi orang yang sejati sekaligus sebagai muslim yang taat, mandiri, berkarakter, beriman dan berakhlak mulia.
Pertanyaanku bukan tidak beralasan. Bukankah saat ini kita telah memasuki era digital? beragam informasi bisa diraih hanya dengan sekali klik, informasi yang diinginkan akan muncul di depan mata. Bukan hanya satu tetapi ribuan informasi bisa kita dapatkan.
Seorang budayawan muslim, Kuntowijoyo, pernah menuliskan dalam salah satu bukunya. Menurutnya, kita telah memasuki era, “Muslim tanpa mesjid”. Maksudnya, remaja muslim saat ini menerima informasi Islam tidak lagi dari ustadz atau Angku guru atau buya di masjid. Tidak lagi mengenal mengaji di malam hari. Mereka belajar agama dari media-media sekuler. Akibatnya, remaja-remaja muslim hari ini tidak memiliki ikatan emosional dengan masjid. Hatinya tidak terpaut sama sekali dengan masjid, apalagi merasa rindu.
Dalam konteks Minang, saat ini keadaannya tidak jauh berbeda. Apakah surau masih memerankan fungsinya seperti pada masa lalu. Sungguh aku ingin mendengarkan jawabannya langsung dari laki-laki minang atau urang awak yang ada di kampung ataupun di perantauan.
Mestinya ada ikatan emosional antara umat Islam dengan masjidnya. Jika kita memiliki kerinduan dengan masjid Al-Haram dan Masjid Al-Nabawi, sejatinya kita juga memilki ikatan batin dengan majid kita.
Bagiku, kecintaan terhadap masjid atau surau itu merupakan suatu keniscayaan. masa-masa mengaji di surau adalah masa-masa yang selalu kuingat. Pengalaman yang tak mungkin aku lupakan karena dari rumah Allah inilah jati diriku sebagai muslimah terbentuk.  Di surau aku belajar dasar-dasar agama seperti tauhid, fikih, tarikh, akhlak, dan hal-hal yang berkaitan dengan keislamanku. Bekal dasar itulah yang aku bawa untuk mengarungi kehidupanku sampai saat ini.
Inilah yang aku bangun di Syafiyyatul Amaliyyah, menjadikan mesjid sebagai sentral kegiatan. Bukan sebatas tempat shalat, melainkan juga dijadikan sebagai landasan aktivitas. Mudah-mudahan, harapanku, mereka memiliki ikatan Bathin dengan mesjid. Ke mana pun mereka akan melanjutkan studinya, rasa rindu tetap terpelihara dengan baik.***   

No comments:

Post a Comment

Afirmasi Diri untuk INFP

 Afirmasi Diri (bisa dibaca pagi atau sebelum tidur) Aku boleh menjadi lembut di dunia yang keras. Itu bukan kelemahan, tapi kekuatanku. Per...