Sambungan
Surau bagiku memiliki makna tersendiri. Demikian pula bagi
anak-anak seusiaku kala itu. Tentu berbeda dengan anak-anak sekarang di mana
masjid atau surau bukan lagi tempat yang memilki daya tarik tersendiri. Aku
juga tidak tahu, apakah fungsi surau masa lalu masih bertahan sampai sekarang
ini? Apakah surau masih dijadikan tempat belajar membaca Al Qur’an? apakah
surau masih menjadi tempat berkumpulnya anak laki-laki minang sebagai pusat
aktivitas? Apakah surau masih memiliki magnet yang begitu kuat sebagai kawah chandra
di muka agar mereka menjadi orang yang sejati sekaligus sebagai muslim yang
taat, mandiri, berkarakter, beriman dan berakhlak mulia.
Pertanyaanku bukan tidak beralasan. Bukankah saat ini kita telah
memasuki era digital? beragam informasi bisa diraih hanya dengan sekali klik,
informasi yang diinginkan akan muncul di depan mata. Bukan hanya satu tetapi
ribuan informasi bisa kita dapatkan.
Seorang budayawan muslim, Kuntowijoyo, pernah menuliskan dalam
salah satu bukunya. Menurutnya, kita telah memasuki era, “Muslim tanpa mesjid”.
Maksudnya, remaja muslim saat ini menerima informasi Islam tidak lagi dari
ustadz atau Angku guru atau buya di masjid. Tidak lagi mengenal mengaji di
malam hari. Mereka belajar agama dari media-media sekuler. Akibatnya,
remaja-remaja muslim hari ini tidak memiliki ikatan emosional dengan masjid.
Hatinya tidak terpaut sama sekali dengan masjid, apalagi merasa rindu.
Dalam konteks Minang, saat ini keadaannya tidak jauh berbeda.
Apakah surau masih memerankan fungsinya seperti pada masa lalu. Sungguh aku
ingin mendengarkan jawabannya langsung dari laki-laki minang atau urang awak
yang ada di kampung ataupun di perantauan.
Mestinya ada ikatan emosional antara umat Islam dengan
masjidnya. Jika kita memiliki kerinduan dengan masjid Al-Haram dan Masjid
Al-Nabawi, sejatinya kita juga memilki ikatan batin dengan majid kita.
Bagiku, kecintaan terhadap masjid atau surau itu merupakan suatu
keniscayaan. masa-masa mengaji di surau adalah masa-masa yang selalu kuingat.
Pengalaman yang tak mungkin aku lupakan karena dari rumah Allah inilah jati
diriku sebagai muslimah terbentuk. Di
surau aku belajar dasar-dasar agama seperti tauhid, fikih, tarikh, akhlak, dan
hal-hal yang berkaitan dengan keislamanku. Bekal dasar itulah yang aku bawa
untuk mengarungi kehidupanku sampai saat ini.
Inilah yang aku bangun di Syafiyyatul Amaliyyah, menjadikan
mesjid sebagai sentral kegiatan. Bukan sebatas tempat shalat, melainkan juga
dijadikan sebagai landasan aktivitas. Mudah-mudahan, harapanku, mereka memiliki
ikatan Bathin dengan mesjid. Ke mana pun mereka akan melanjutkan studinya, rasa
rindu tetap terpelihara dengan baik.***
No comments:
Post a Comment