Tuesday, January 14, 2014

Kutipan Buku Alam takambang Jadi Guru VIII

Tirulah Sifat Tanaman Paku

Suatu pagi di hari libur, aku bersama nenek bekerja di parak(Ladang). Lokasi perak nenek sebenarnya cukup jauh. Kami harus menyusuri jalan setapak yang mendaki untuk sampai ke parak. Jalan yang berbelok-belok penuh semak belukar harus ditebas agar jalan menjadi terang. Parak atu sabit selalu setia menemani kami untuk menghalang rumput ilalang. Andaipun bertemu dengan binatang buas, mudah pula untuk melakuakan antisipasi. 
Salah satu cara nenek menghilangkan keletihan kami adalah dengan berdendang. Aku masih ingat lagu yang sering didendangkan nenek yaitu,
"Oo Etty, rabahlah paku, nak tarang jalan ka parak. Oo Etty, eloklah laku, nak sayang urang ka awak."
Artinya tebaslah pakis agar terang jalan ke ladang, Baiklah laku agar sayang orang kepada kita. Syair itu dinyanyikan nenek berulang-ulang sembari berjalan menuju parak. Tak terasa, kami pun  sampai di ladang yang lumayan luas itu.
Lagu yang didendangkan nenek sesungguhnya bukanlah sebatas mengusir lelah. Tidak juga untuk memperpendek jarak, apalagi mempersingkat waktu, namun lebih dari itu, nenek sedang mengajarkan sesuatu. Dengan kesederhanaannya, ia mencoba untuk menanamkan nilai-nilai. Dari tanaman atau dari apasaja yang mengandung pesan luhur dan kearifan-kearifan lokal.
Matahari sudah ada di atas kepala. Peluh sudah bercucuran di tubuh nenek membasahi baju kurungnya yang terbuat dari katun, warna bunganya sudah kusa, tak jelas lagi. Namun nenek tetap saja tak memperdulikannya. Tampaknya ia sangat menikmati pekerjaannya, bencengkrama dengan tanah, rumput dan ilalang yang hampir saja menguasai paraknya. 
Nenek seorang perempuan gigih, padusi minang sejati. Sejak diceraikan oleh suami keduanya, tidak lagi terpikir olehnya untuk "mencari laki". Sudah cukup baginya, pengalaman dan penderitaan, bersuamikan orang yang tidak bertanggung jawab. Lebih baik sendiri, membawakan untung, dari berpeluh mengharapkan bantuan dari orang lain.
Anak perempuan satu-satunya, emakku, hidupnya pun tak jauh beda. Sudah pula dirundung sedih dengan kehidupan keluarganya sendiri. Anak laki-lakinya yang tua, Paman Jumaah, sudah meninggal zaman PRRI, ditembak oleh tentara pusat. Anak ketiganya, berlainan bapak dengan emak, sudah lama merantau, hampir tidak pernah pulang, bahkan hampir melupakan ibu kandungnya sendiri.
Tiba saatnya untuk beristirtahat, nenek membentangkan tikar pandan yang dianyamnya dengan tangan sendiri, tampak agak sedikit sobek. Satu per satu dikeluarkannya bekal makan siang kami. Perutku pun semakin keroncongan dan aku menelan air liur melihat masakan nenek yaitu gulai paku kaluak yang telah dipanaskan ditambah dengan dua potong rendang. kami mulai santap makan siang.
Nenek mengajariku cara berhemat dengan membuat sampiran.
"Oi cucuk nenek, sering makan paku sangat baik, biar rambutnya panjang. Banyak-banyaklah makan gulai rebung biar kulitnya putih, tapi kalau makan rendang sekali-kali saja, tidak baik banyak-banyak, nanti disepak kuda."
Aku hanya mengangguk mengiyakan, meskipun betapa enaknya rendang dengan gulai cubadak. Setelah dewasa baru aku paham ternyata nenek mengajariku untuk berhemat dan hidup jangan berfoya-foya.
Lalu nenek melanjutkan obrolan kami sambil membelai rambutku yang panjang terurai, Bersambung**  

No comments:

Post a Comment

Afirmasi Diri untuk INFP

 Afirmasi Diri (bisa dibaca pagi atau sebelum tidur) Aku boleh menjadi lembut di dunia yang keras. Itu bukan kelemahan, tapi kekuatanku. Per...