Sayang Kampung Ditinggalkan
Anak minang merantau sesungguhnya belajar dari alam.
Belajar tanpa didampingi seorang guru atau pembimbing. Ia melangkah, belajar,
mencoba, gagal, berhasil, silih berganti, demikianlah seterusnya. Semua
peristiwa yang didapatnya dari perjalanan hidup di rantau harus diberi makna.
Pengalaman itulah yang membentuknya menjadi pribadi tangguh.
“karatau madang di
hulu, babuah babungo balun. Merantau bujang dahulu di rumah baguno balun”.
Pepatah Minang ini menjadi basis tumbuhnya budaya merantau di kalangan orang
Minang. Kata “Baguno” atau berguna memiliki arti yang sangat dalam. Hidup bukan
sekadar hidup. Hidup seharusnya membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat,
agama dan bangsa. Sosok yang tidak saja kuat dari sisi fisik, tetapi juga kuat
dari sisi keilmuan, moralitas, integritas dan juga kearifan.
Kampung bagi orang Minang dipahami sebagai tempat asal atau
tanah kelahiran. Keluarga dalam maknanya yang luas. Karena itulah, orang Minang
memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan kampung halamannya. siapa yang
tidak mencintai kampung dan keluarganya, maka ia akan tercabut dari budayanya.Meskipun
harus dicatat, mencintai kampung tidak mesti dengan mendiaminya. Bukan pula
ditunggui. Dari lahir sampai meninggal dunia.
“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung
halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah kau
akan dapat pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup
terasa setelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan.
Jika mengalir air menjadi jernih, jika tidak akan keruh menggenang. Singa jika
tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tidak tinggalkan
busur tak akan kena sasaran. Jika matahari diorbitnya tidak bergerak dan terus
diam tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang. Biji emas bagaikan tanah
biasa sebelum digali dari tambang. Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
di dalam hutan.” demikian indah petuah Imam Syafi’i, ulama yang agung
memberikan petuah kepada perantauan.
Di dalam Al Quran dikatakan:
“Dan orang-orang
beriaman dan berhijrah dan berjihad di jalan Allah dan orang-orang di tempat
kediamannya memberi pertolongan kepada orang-orang muhajirin, mereka itulah
orang-orang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki dan
nikmat yang mulia.”
No comments:
Post a Comment