Adat Yang Beradat
By: Rahmawati Raz
Minangkabau adalah salah satu etnik di dunia ini yang adatnya sangat melingkupi seluruh dimensi kehidupan. Masyarakat minang juga konsisten untuk berpegang pada adatnya. Jika ditanya,"apakah mereka memahami tentang adat?" Maka mereka langsung menjawab,:Adat adalah peraturan hidup sehari-hari.: Hidup tanpa aturan sama maknanya dengan hidup tak beradat.
Selalu kujelaskan kepada anak-anakku, bahwa bagi orang Minang, duduk tegak beradat, berbicara beradat, makan-minum beradat, menguap pun ada adatnya. Sekecil apapun gerak dan tingkah laku, semuanya memiliki aturan khusus. Tidak bisa sembarangan atau sesuka hati. Ketika kulihat anakku makan, kakinya diletakkan seenaknya, akun katakan bahwa itu tidak sesuai dengan adat minangkabau. Bagi sebagian orang mungkin hal itu tidak masalah, tapi bagiku hal-hal seperti itu harus diperbaiki.
Tentu saja penjelasan diatas sangat sederhana. Dalam maknanya yang lebih luas, adat menyangkut kehidupan sosial atau mu'amallah. Isu-isu yang kerap kontroversial seperti hukum perkawinan sesuku, warisan atau hukum waris pusako tinggi, pusako rendah, pembentukan nagari, pemerintahan adat dan lainnya, semua mencakup aturan yang tersimpul ke dalam pepatah, petitih, mamangan dan sebagainya.
Dengan demikian, adat Minangkabau dimaknai sebagai segala aturan hidup masyarakat, sebagai undang-undang yang tidak tertulis yang harus selalu dipatuhi oleh komunitas masyarakat. Dirumuskan melalui pemikiran yang mendalam yang berbasis pada akal budi. "Alam Takambang Jadi Guru". Hal ini sesungguhnya menegaskan bahwa orang minang mengakui dirinya sebagai bagian dari alam. Sehingga apa yang menjadi hukum alam juga menjadi bagian dari hukum kehidupannya.
Jika disederhanakan adat Minangkabau sesungguhnya adalah suatu konsep kehidupan yang disiapkan oleh nenek moyangnya untuk anak cucu keturunannya yang bertujuan untuk mencapai suatu kehidupan bahagia yang sejahtera dunia dan akhirat. Dalam ungkapan pepatah Minang digambarkan,"Ternak berkembang biak. Anak buah senag sentosa. Bapak kaya Ibu bertua. Mamak (Paman) dihormati pula."
No comments:
Post a Comment