Friday, February 27, 2015

Sekilas Tentang sesar di Lembang, Jawa Barat

Tanggal 23 Agustus 2011, majalah baru diterbitkan oleh Badan Geologi “GEOMAGZ Majalah Geologi Populer” Vol. 1 No. 1 dengan mengambil tema utama “bencana” dan cover story “Sesar Lembang”.
Tanggal 28 Agustus 2011 terjadi gempa bumi di Cisarua (tepat di jalur Sesar Lembang) merusak 103 rumah. Semoga tulisan di GEOMAGZ ini bisa menjadi inspirasi untuk segera memitigasi bencana yang diakibatkan oleh gempa bumi di Sesar Lembang.
Dengan terbentangnya robekan pada kerak bumi yang memanjang sedikitnya 22 km dari Cisarua di barat, melewati kota padat Lembang, hingga lereng G. Palasari di timur, para ahli Geologi mengkhawatirkan gempa bumi berkekuatan besar dapat mengguncang Bandung, dipicu aktivitas tektonik dan robekan itu. Gempa bumi besar itu (earthquake) dapat mengguncang hati (heartquake) para penghuni jantungnya Cekungan Bandung.
Bandung Terancam
Dalam suatu ceramah umum untuk masyarakat tentang Sesar Lembang yang diselenggarakan Program S2 Gempa Bumi dan Tektonik Aktif (GREAT: Graduate Research on Earthquake and Active Tectonik), Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, ITB, tanggal 25 Maret 2011, peserta tidak disangka-sangka berdesakan memenuhi ruangan. Ada dugaan hal itu dipicu oleh gempa besar yang dua minggu sebelumnya melanda Jepang bagian timur yang diikuti terjangan tsunami dahsyat yang memorak-porandakan pantai-pantai di Perfektorat Miyagi tersebut. Dugaan lain adalah karena mungkin telah ada kesadaran masyarakat Bandung umumnya dan Lembang khususnya akan adanya potensi bencana alam besar karena keberadaan Sesar Lembang.
Kekhawatiran tentang aktifnya kembali Sesar Lembang pada tahun 2006 telah diliput harian Pikiran Rakyat. Liputan itu adalah hasil diskusi di aula redaksi Pikiran Rakyat tentang ancaman gempabumi terhadap Bandung setelah gempabumi yang melanda Yogyakarta 2006. Kini semakin banyak warga Kota Bandung dan sekitarnya yang ingin mengetahui lebih jauh tentang kemungkinan Sesar Lembang aktif kembali dan menimbulkan gempa bumi besar.
Antusiasme masyarakat untuk mengetahui Sesar Lembang adalah sesuatu hal yang wajar karena selama ini informasi tentang Sesar Lembang hanya diketahui oleh mereka yang terlibat dalam bidang Ilmu Kebumian saja, yaitu Geologi, Geodesi, Geofisika, atau Geografi. Bahkan di samping itu, ada juga para ahli Geologi yang masih meragukan keaktifan Sesar Lembang
Belajar dari Jepang
Gempa yang menghantam perkotaan terbukti sangat parah dan berresiko tinggi. Tokyo 1923, Kobe 1995, Yogyakarta 2006, Padang 2009, atau Haiti dan Christchurch 2010 adalah beberapa contoh kehancuran perkotaan akibat gempabumi. Lalu, Jumat 11 Maret 2011, sebuah hentakan tektonik kuat pada Lempeng Pasifik yang berinteraksi dengan Lempeng Amerika Utara di timur laut Jepang menimbulkan gempabumi berkekuatan 9,0 Mw. Tetapi dari tayangan-tayangan di televisi beberapa jam kemudian kita melihat bagaimana masyarakat Jepang begitu tenang menghadapi gempa bumi merusak ini. Para kru televisi NHK memang sedikit khawatir ketika kantor mereka berguncang hebat menggetarkan komputer dan peralatan yang ada di atas meja dan lemari. Tetapi para anggota kabinet Jepang yang sedang rapat dengan tenang meninggalkan ruangan rapat satu per satu. Tidak ada yang terlihat bersikap panik.
Beberapa menit kemudian, gempa bumi itu memicu tsunami dahsyat yang meluluhlantakan pantai-pantai di timur Jepang yang menghadap Samudera Pasifik. Kembali pemirsa televisi di seluruh dunia disuguhi tayangan fenomena alam yang mengerikan. Gelombang laut dahsyat menghantam permukiman, merubuhkan bangunan, dan menghanyutkan apa saja yang berada di pantai.
Ada yang perlu dicontoh dari siaran televisi Jepang. Sekalipun korban hingga dua minggu setelah kejadian dilaporkan menewaskan 12.000 jiwa, tetapi tidak ada satu tayangan pun di layar televisi (juga pada foto-foto di media cetak) yang memperlihatkan mayat-mayat yang bergelimpangan. Tayangan yang ada adalah bagaimana rakyat Jepang begitu tabah dan kuat menghadapi musibah itu, dan semangat bergotong-royong serta tolong-menolong di antara mereka yang hidup justru menjadi suguhan utama di layar televisi. Kita pun menyaksikan bahwa dengan gempa bumi dan tsunami yang begitu dahsyat dan melanda perkotaan yang padat penduduk, namun korban jiwa dapat dikatakan “lebih sedikit.” Tidak dapat dibayangkan apabila kejadian gempa bumi dan tsunami itu melanda perkotaan di sebuah negeri yang masyarakatnya kurang memiliki budaya dan perilaku siap menghadapi gempa.

Perlu Mitigasi
Kekhawatiran terpicunya gempabumi besar karena keberadaan Sesar Lembang sudah mulai diperhitungkan. Selain sebagai media rambat gelombang gempabumi dari sesar-sesar aktif lainnya di Jawa Barat, Sesar Lembang dapat juga menjadi sumber gempabumi itu sendiri. Untuk itulah peta-peta kerawanan bencana gempabumi ke arah Kota Bandung yang berpenduduk padat mulai dibuat. Di antaranya peta percepatan gempabumi yang menunjukkan daerah rawan bencana selain di sepanjang jalur sesar, juga merambat ke arah selatan Bandung, pada daerah-daerah bekas endapan danau yang bertanah fondasi kurang mantap. Peta-peta ini sudah cukup berharga untuk membuat kita waspada, karena gempa bumi sulit diprediksi! Ketika kita sulit menentukan kapan datangnya gempa bumi, maka usaha terbaik adalah bagaimana kita mempersiapkan diri jika gempa itu benar-benar datang. Itulah usaha mitigasi bencana, yaitu usaha untuk meminimalkan resiko atau akibat dari bencana.
Mitigasi terbagi ke dalam dua jenis, yaitu secara struktural berupa penataan ruang atau kode bangunan, dan secara non-struktural berupa pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat bagaimana selamat dari bencana. Saran-saran arsitek perlu diperhatikan dalam membangun bangunan di kawasan rawan bencana akibat gempabumi. Di antaranya adalah tiang yang kuat, struktur yang sederhana, bahan yang ringan, dan lokasi yang aman (misalnya tidak di tebing atau pada jalur sesar aktif). Begitulah mitigasi struktural yang mencakup syarat bangunan dan tata perwilayahan ruangnya.
Adapun mitigasi non-struktural adalah kiat-kiat bagaimana selamat dari bencana gempa. Kiat-kiat Jepang atau Chile perlu dipertimbangkan. Setelah bangunan kuat, belum tentu selamat dari musibah. Di dalam rumah yang digoncang-goncang, isinya akan seperti dikocok-kocok. Berlindung melindungi kepala adalah tanggap darurat yang pertama-tama perlu dilakukan.
Mengikuti cara Jepang, beginilah selamat dari gempa bumi, dengan asumsi kode bangunan telah sesuai teraplikasikan di daerah rawan gempabumi:
  1. Segera matikan sumber api
  2. Segera berlindung di bawah bentukan/furnitur yang kuat, misalnya di bawah meja yang kokoh. Jika tidak ada, segera berbaring dengan melindungi kepala sejajar bentukan kokoh, misalnya tempat tidur atau rak pendek.  Ketika atap atau lemari rubuh, diharapkan terbentuk ruang segitiga tempat kita berbaring.
  3. Tidak terburu-buru keluar rumah karena di luar rumah ancaman dijatuhi berbagai benda akan lebih dahsyat. Lift atau tangga adalah bagian bangunan yang rawan runtuh.
  4. Siapkan tas berisi peralatan P3K, air dalam botol, makanan ringan tahan lama, peluit, radio kecil, dll. dan segera sambar begitu gempa semakin kuat dan bersembunyi di kolong meja kokoh. Dalam gempa yang dahsyat, kemanapun bahaya akan mengancam jiwa. Pengalaman Jerpang, berlindung di kolong meja banyak menyelamatkan nyawa. Ketika kemudian bangunan ambruk, jiwa yang selamat di kolong meja tinggal menunggu pertolongan. Itulah gunanya tas yang perlu disambar ikut berlindung.
  5. Jika berada di luar rumah, merapatlah pada struktur bangunan yang dinilai kokoh (bukan pagar tembok), keluar dari kendaraan dan berbaring sejajar kendaraan, dan hindari tebing (baik di bawah atau di atas kita).
  6. Harus ditentukan tempat berkumpul yang pasti (assembly point) supaya koordinasi dan pencarian warga lebih terkontrol.
 Sumber: http://blog.fitb.itb.ac.id

No comments:

Post a Comment

Afirmasi Diri untuk INFP

 Afirmasi Diri (bisa dibaca pagi atau sebelum tidur) Aku boleh menjadi lembut di dunia yang keras. Itu bukan kelemahan, tapi kekuatanku. Per...