Tuesday, December 8, 2015

2

By: Dr. Khalid Jamal
Tingkatan Cinta
Tingkatan pertama cinta adalah istihsan (anggapan baik). Pada tingkatan ini seseorang menyukai wajah orang yang menjadimobyek cintanya. Dengan demikian, cinta itu pada mulanya bermula dari pandangan mata. Mata seolah-olah berperan sebagai delegasi seseorang yang sedang dilanda cinta, terlebih lagi saat lidah tak mampu mengekspresikan cinta. Pada level ini interaksi yang terjadi lebih bersifat kesetiakawanan, belum terjadi interaksi cinta.
Tingkatan yang kedua adalah takjub. Pada tingkatan ini seseorang selalu ingin berada di samping obyek cintanya dan ingin selalu bercakap-cakap dengannya.
Kemudian tingkatan selanjutnya adalah rindu. Dalam level ini, hati seseorang demikian menggebu-gebu terhadap kekasihnya, sehingga dia tersiksa apabila tidak melihat kekasihnya. Semua orang akan ikut merasakan kegelisahannya. Dan kegelisahan tersebut akan terobati tatkala ia melihat kembali kekasihnya.
Lalu tingkatan terakhir adalah tingkatan kasmaran. Pikiran seseorang pada level ini akan selalu dipenuhi oleh cinta. Di kalangan penyair, syair yang dilantunkan oleh seseorang yang berada di level ini disebut usyq  (Syair mabuk cinta).
Seseorang yang sedang kasmaran ada 3 tingkatan: tingkatan permulaan, pertengahan dan akhir.
Pada tingkatan permulaan setiap orang harus segera menepisnya semaksimal mngkin apabila supaya untuk menuju tambatan hatinya diperkirakan tidak mungkin secara realita atau tidak diperbolehkan secara syar’i.
Namun, apabila ia tidak mampu menahan kasmaran dan hatinya ingin selalu dekat dengan kekasihnya, maka berarti ia telah masuk ke dalam tingkatan pertengahan.

Sedangkan tingkatan akhir, dalam hal ini dia harus merahasiakan perbuatannya, tidak perlu disebarluaskan kepada manusia. Jika ia tetap menyebarluaskannya, maka berarti ia telah melakukan kezaliman yang terang-terangan.

No comments:

Post a Comment

Afirmasi Diri untuk INFP

 Afirmasi Diri (bisa dibaca pagi atau sebelum tidur) Aku boleh menjadi lembut di dunia yang keras. Itu bukan kelemahan, tapi kekuatanku. Per...