By: Dr. Khalid Jamal
Apa itu cinta?
Cinta adalah ungkapan perasaan jiwa, ekspresi hati dan gejolak
naluri yang menggelayuti hati seseorang terhadap kekasihnya. Ia terlahir dengan
penuh semangat, kasih saying dan kegembiraan. Pada mulanya cinta hanya sekedar
iseng lalu menjadi serius. Demikian lembutnya arti sebuah cinta seingga tidak
dapat diungkapkan dengan kata-kata. Cinta hakiki takkan dapat dimengerti
kecuali dengan sebuah pengorbanan.
Dengan kata lain, cinta hanya dapat dipahami oleh seorang insane
yang tenggelam di dalamnya. Ungkapan saja takkan mampu mewakili hakikat cinta,
walaupun pelakunya adalah seorang sastrawan yang lihai.
Sebagian orang-orang saleh dan fuqaha’ masa lalu ada yang
mengekspresikanseputar cinta melalui syair mereka.
Cukuplah fatwa Ibny Abbas ra. Mewakili tentang itu, ketika
ia mengklaim seseorang yang dimabuk cinta beliau mengatakan: “orang ini adalah
korban nafsu, tidak memiliki pikiran potensi dan kekuatan apapun.
Agar kita tahu apa itu cinta, ada tuliasan Ar-Rafi’i dalam
karyanya Wahyu al-Qalam seputar cerita mahsyur dalam sejarah, antara
Abdurrahman bin Abi Ammar yang dijuluki Al-Qiss (pendeta) dan Salamah, wanita
penyanyi, hamba sahaya Suhail bin Abdurrahman. Ia begitu cantik, elok, dan
menawan, pandai bersyair, akrab dengan buku-buku bacaan dan seorang sejarahwan
pada masanya. Ar- Rafi’I mengisahkan dengan ungkapan yang pernah dikatakan
Salamah sendiri:
“Amirul mukminin Yazid bin Abdul Malik telah membeliku
seharga 20.000 dinar. Ketika saya ditunjukkan kepadanya, saya disuruh untuk
bernyanyi. Ketika itu saya tergila-gila dengan cintanya Abdurrahman Al Qiss. Cinta
yang menembus jantung saya, memaknai desahan nafas saya. Sungguh sekonyong-konyong
hilanglah semua syair lagu yang telah saya hafal. Lembaran yang saya tulis pun
terhapus. Saya lupa bahwa saya telah berada di hadapan khalifah. Yang ada di
dalam bayangan saya hanyalah Abdurrahman, dan majelisnya ketika saat itu
meminta saya untuk mendengarkan syairnya. Lalu saya katakana kepada khalifah: “Paduka
akan patuh, hormat dan menjunjung tinggi engkau, wahai khalifah!” Saya segera
kembali berkonsentrasi, saya ketuk perasaan khalifah dengan hati, sebelum saya
ketuk hatinya dengan belaian tangan.
Syair:
Coba katakana pada
hatimu yang paling dalam
“Apa kau sadar dengan
apa yang sedang kau lihat?”
Bagaimana dapat kau
abaikan Salamah hari ini?
Ia adalah bunga yang
jika mendendangkan lagu
Maka hati para
pendengar ikut melayang bersamanya
Tatkala Salamah
menatap tajam dengan matanya (To be continued)
No comments:
Post a Comment