Sunday, January 5, 2014

Kutipan Buku Alam Takambang jadi Guru III

Kecil-kecil Sudah Berdagang
By: Rahmawati Raz (Ummy Etty)

Manggaleh atau berdagang, identik dengan sebutan yang melekat kepada orang minang. maksud dan tujuannya tentu saja baik. Bukan sebaliknya sebagai suatu celaan. Justru didalam sebutan manggaleh itulah, orang Minang disebut-sebut memiliki etos kewirausahaan yang tangguh. Ada banyak makna dan kandungan falsafah hidup yang utuh. Di ranah ini anak dagang tidak dianggap orang buangan, malah dihormati dan mempunyai hak-hak tertentu, duduk sama rendah, tegak sama tinggi.
Mungkin disebabkan etos enterpreneurship orang minang, sejak kecil aku sudah berfikir bagaimana memperoleh uang. Belakangan aku menjadi mengerti, mengapa bapakku membuat warung atau kedai di depan rumah kami. Kiranya ingin menjadikan rumahnya tidak hanya memiliki fungsi-fungsi konvensional, tetapi juga dapat menjadi rumah produktif. Di kedai yang tidak terlalu luas itu, kami menjual beberapa kebutuhan sehari-hari dan jajanan anak-anak.
Spirit bisnis ini kurasakan juga mengalir di darahku. Aku sering membawa bon-bon atau gula-gula ke sekolah lalu kujual dengan teman-teman. Penjualan langsung (direct selling) memang sangat menguntungkan. Cepat, ringkas, dan fleksibel. Aku bisa melakukan transaksi di kelas, tentu saja kalau Bu guru belum masuk. Bisa berjualan di halaman sekolah atau bisa juga di lapangan olahraga. Hasil penjualan kuserahkan kepada emak, walaupun aku tahu dari hati kecilnya emak sebenarnya tidak tega melihat ajku berjualan. Kalau tidak karena desakanku dengan alasan biar pandai berhitung dan pandai berdagang, tentu emak takkan pernah mau menerima hasil penjualanku yang tak seberapa itu. Akhirnya, emak mengizinkanku belajar sambil berdagang. Syaratnya pelajarnku tidak boleh tertinggal.
Emak memberikanku modal berdagang dengan nasehatnya yang tidak akan aku lupakan,"Kalau berjual beli mencari laba jangan sekali-kali berdusta atas timbangan dan takaran, dan jangan pernah bersumpah palsu untuk mengelabui pembeli, supaya allah tidak murka dan hasil labanya mendapat berkah."
Sampai kini nasehat tersebut terus kupegang. Tidak itu saja, nasehat itu bahkan kuterjemahkan dalam kehidupan nyata, baik dalam kehidupan sosialku ataupun dalam konteks keberadaanku sebagai ketua yayasan di Shafiyyatul Amaliyyah.
Secara diam-diam aku juga pernah menjajakan kue Krunyuk buatan nenek Darama. Keuntungannya kupakai untuk jajan. Emak dan nenek sering berdiskusi dan heran tentang diriku. Mengapa uangku banyak dan tidak pernah meminta uang jajan. Karena aku tidak pandai berbohong, akhirnya kukatakan sejujurnya bahwa aku berjualan di sekolah. Sementara uang jajan yang diberi emak kutabung di balik baju. Aku telah merencanakan sesuatu dengan uang tabunganku itu, membeli mainan.
Seperti biasanya emak langsung memberi nasihat dengan pepatah-petitihnya. "Orang berjualan itu ada tata caranya, simakkan ya nak kandung, senteng berbilai, singkat berulas, bertukar beranjak, berubah bersapa. Panjang dan singkat perulaskan, makanya sampai yang dicita."
Ungkapan yang cukup indah dan sarat makna. Semua potensi yang ada dalam hidup berdagang digali, dan dipertemukan untuk sama-sama mencapai suatu keuntungan tanpa harus mengorbankan rasa persaudaraan. memulai dari yang kecil menuju besar, bukan dari besar dengan menggulung dan melahap sesama besar. 
Menurut Buya H. Masoed Abidin yang dikutip dalam tulisannya berjudul, saudagar Minang, Badagang jo Manggaleh, mengatakan berdagang dengan arti manggaleh, di dalam paham orang Minang adalah memelihara sebuah amanah. Mungkin, asal katanya dari galeh atau gelas sebagai produk pecah belah, yang mudah pecah dan mudah membelah. Bisa berserakan hancur berantakan, tidak mungkin dipertautkan lagi. Karena itu memegang gelas manggaleh perlu ada kiatnya yakni hati-hati dan selalu pandai memelihara perlu sekalian ketelitian.
Orang Minang masih memakai kaedah-kaedah pergaulan yang nyaman, seperti adat hidup tolong menolong, adat mati jenguk menjenguk, adat ada beri memberi, adat tidak saling meminjamkan atau berselang tenggang. Bagaimanapun kemelut yang terjadi, sikap paibo atau penghiba itu, masih tercermin dalam perikehidupan bermasyarakat, bersilang kayu dalam tungku di sana api mangkanya hidup.
Dikuncinya dengan satu ungkapan, ingat sebelum kena, kalimat sebelum habis, ingat-ingat yang akan pergi, agak-agak yang ditinggal. Jeli dan jelimet dengan perhitungan matang tentang manfaat sebuah tindakan, bagi yang berdagang maupun orang kampung yang ditinggalkan.** 
  

2 comments:

  1. Egith .this i the review or resensi of book,alam takambang jadi guru

    ReplyDelete
  2. It is just a part of that book Sir, , I just re-write this writen

    ReplyDelete

Afirmasi Diri untuk INFP

 Afirmasi Diri (bisa dibaca pagi atau sebelum tidur) Aku boleh menjadi lembut di dunia yang keras. Itu bukan kelemahan, tapi kekuatanku. Per...